Pages

Banner 468 x 60px

Ketenaran, Obat, dan Minuman Keras

0 komentar


Masih diperlukan waktu beberapa pekan sampai penyebab kematian penyanyi pop Whitney Houston diketahui pasti. Uji toksikologi yang dilakukan memerlukan waktu sampai delapan pekan. Namun, spekulasi mengenai penyebab kematian itu merebak bahwa dia tewas karena campuran obat resep dan minuman keras.

Pihak berwenang menolak mengeluarkan hasil awal otopsi Houston. Namun, mengingat riwayat kecanduan narkoba dan miras Houston, kecurigaan awal adalah kemungkinan overdosis narkoba.

Ed Winter—dokter forensik untuk Los Angeles County, yang menolak berspekulasi mengenai hasil temuan pada darah atau urine Houston—mengatakan, mungkin ada kecurigaan mengenai penyebab kematian, tetapi masih harus menanti hasil resmi. ”Anda mungkin punya kecurigaan. Namun orang itu bisa saja mengalami serangan jantung atau embolisme,” katanya.

Laman berita hiburan TMZ mengatakan dari ”sumber-sumber keluarga”, mereka mengetahui bahwa Houston meninggal karena kombinasi obat resep dan miras.

Situs itu, mengutip sumber-sumber penegak hukum dan jaringan televisi NBC, mengatakan, beberapa botol pil ditemukan di kamar hotel tempat Houston meninggal, di antaranya obat antidepresi Xanax dan obat antirasa sakit lainnya. CBS News, mengutip sumber yang berspekulasi, mengatakan, kemungkinan besar penyebab kematian adalah serangan jantung atau overdosis obat resep.
Mendapatkan semuanya

Houston bukan pesohor pertama yang hidupnya berakhir tragis. Walau penyebab kematiannya belum diketahui, riwayat penyalahgunaan narkoba membuat orang bertanya-tanya bagaimana kemundurannya bisa terjadi di hadapan mata publik, seperti dialami selebritas lain.

”Mereka lebih rentan karena bisa mendapatkan apa yang diinginkan, sebanyak mereka mau dan kapan pun. Itu adalah kombinasi yang buruk,” kata ahli ketergantungan obat, Dr Gregory A Smith, kepada NBC.

Smith mengatakan, dia sedih, tetapi tidak terkejut mendengar kematian Houston. Menurutnya, orang-orang di sekitar selebritas itu khawatir akan posisi mereka sehingga tidak cukup keras memberitahu kala sang selebritas menyalahgunakan obat.
Smith mengatakan, seharusnya orang-orang yang dekat dengan selebritas cukup berani mengingatkan bahwa narkoba itu tidak bagus.

Hal serupa dikatakan Colin Galbraith, penulis masalah rehabilitasi pecandu narkoba. Menurutnya, pesohor dikelilingi oleh orang-orang yang akan melakukan dan mendapatkan apa pun bagi mereka tanpa bertanya. Banyak selebritas bisa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan, dan ini adalah bagian dari masalah.

Menurut Galbraith, ketika seorang selebritas memutuskan melakukan pemulihan, kerap kali putusan itu tanpa dukungan dan komitmen. Ini yang membuat rehabilitasi tidak berhasil pada banyak selebritas. Houston beberapa kali menjalani itu untuk mengatasi ketergantungan pada obat dan miras, paling akhir pada Mei 2011.

Michael Jackson tewas tahun 2009 karena overdosis untuk mengatasi kesulitan tidur. Aktor Heath Ledger pada 21 Januari 2008 ditemukan tewas akibat kecelakaan setelah mengonsumsi enam jenis obat penghilang nyeri.

Dr Jeff Gardere, seorang psikolog, mengatakan kepada Fox bahwa obat-obat resep itu bisa datang akibat kedekatan hubungan pasien dengan dokter. Dan, para pesohor itu cenderung mempunyai hubungan dekat dengan dokter atau mampu meminta dokter memberi obat yang mereka inginkan.

Dr Reef Karim, pendiri Control Center for Addiction, di Los Angeles, telah merawat banyak selebritas. Namun, dia mengatakan hanya bersedia menangani selebritas jika mereka bisa diputus dari mesin industri Hollywood, diputus dari pihak-pihak yang berkepentingan, yang pemasukan uangnya tergantung pada ketenaran selebritas.
(AFP/Reuters/DI)

Sumber :
Kompas Cetak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar