Pages

Banner 468 x 60px

Pembeli seks sangat berisiko tularkan penyakit menular

0 komentar


Pekerja seks komersial hanyalah korban dan bukan pihak penular penyakit infeksi menular seksual (IMS) ataupun HIV-AIDS, demikian dikatakan Koordinator Program Pencegahan Melalui Transmisi Seksual Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Slamet Riyadi di Jakarta, Rabu (22/2).

"Padahal pembeli seks-lah yang sangat berisiko menularkan (penyakit IMS atau HIV-AIDS)," kata Slamet dalam penutupan Program Pencegahan IMS dan HIV-AIDS yang melibatkan sejumlah komunitas lokasi prostitusi di Indonesia.

Estimasi data PKBI 2009 memperkirakan 3,2 juta laki-laki dewasa di Indonesia pernah menjadi pelanggan pekerja seks. Di lain pihak, sekitar 1,9 juta perempuan menikah dengan laki-laki yang terinfeksi HIV dan jumlah perempuan yang dilacurkan sekitar 214 ribu jiwa.

"Laki-laki itu sebenarnya susah untuk ketularan, tapi mudah menularkan (penyakit seksual)," kata Slamet.

Secara sosial, menurut Slamet, laki-laki merupakan pihak yang berinisiatif untuk membeli seks dan kemudian enggan memakai kondom.

"Posisi tawar pekerja seks perempuan atau saya menyebutnya perempuan yang dilacurkan, di Indonesia sangat rendah terhadap para pelanggan mereka," kata Slamet.

Slamet mengatakan banyak ditemukan perempuan yang berada di sejumlah lokasi prosititusi di Indonesia datang dari keluarga miskin.

PKBI telah melakukan advokasi seperti membantu penyusunan aturan lokal komunitas lokasi prostitusi untuk melindungi hak-hak para pekerja seks.

"Itu lumayan (membantu). Tapi apakah itu menjamin pelanggan untuk menggunakan kondom? karena ketika sudah masuk kamar, (yang berlaku) di situ hubungan kedua belah pihak," kata Slamet.

Sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar