Pages

Banner 468 x 60px

Harga BBM Pembunuh Massal?

0 komentar
PEMERINTAH tetap pada pendiriannya menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) terhitung 1 April 2012. Bila respons Dewan Perwakilan Rakyat positif, harga BBM jenis premium dan solar dipastikan Rp6.000 per liter. Satu kebijakan yang berdampak pada semua sisi kehidupan rakyat Indonesia.

Melalui Menteri Keuangan Agus Martowardojo, pemerintah berdalih kenaikan harga BBM harus direalisasikan tahun ini untuk menghindari pembengkakan anggaran subsidi. Andai urung dinaikkan, subsidi BBM akan membengkak hingga Rp178 triliun dari sebelumnya Rp123 triliun yang diterapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Memang pemerintah telah menyiapkan skenario kenaikkan harga BBM. Salah satunya dengan merogoh kocek negara Rp30-40 triliun. Dana tersebut disebar untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT), dan tambahan beasiswa bagi anak miskin. Namun kedua kebijakan tersebut tidak menjamin terjadinya gejolak sosial dalam masyarakat dan korupsi akibat penghapusan subsidi tersebut.

Dampak langsung dari kenaikan BBM ini adalah meningkatkan jumlah pengangguran. Bertambahnya daftar anak putus sekolah akibat melonjaknya biaya. Terparah, semakin membludak jumlah anak miskin yang mengalami gizi buruk. Fenomena ini dipastikan menyuburnya tindak kriminal karena tekanan biaya kehidupan.

Ambil contoh tingginya anak putus sekolah akibat melonjaknya biaya hidup. Jumlah anak SD hingga SMA yang putus sekolah pada 2010 mencapai 1,08 juta. Angka itu melonjak lebih dari 30 persen dibanding tahun sebelumnya 750.000 siswa. Masih ada 3,03 juta siswa yang tak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Hal ini terjadi karena pemerintah belum mampu memberanguskan angka kemiskinan.

Tanpa pendidikan memadai, sudah pasti peluang anak bangsa meraih pekerjaan yang layak nyaris tertutup. Bahkan bisa jadi generasi penerus yang mengenyam pendidikan strata satu (S1) hanya menunggu panggilan kerja setelah menyebar puluhan lamaran. Meski pendidikan tinggi, perusahan pasti berfikir ulang menambah karyawan karena biaya produksi tinggi akibat kenaikkan BBM. Lebih realistis, perusahaan akan memilih pengurangan karyawan.

Terpenting bagi pemerintah adalam memikirkan dampak kenaikkan harga BBM tersebut. Jangan hanya memaparkan penghematan anggaran karena penghapusan subsidi. Pasalnya, anak bangsa yang terkena dampak kenaikkan harga BBM pasti semakin merasa sulit dalam memenuhi kebutuhan.

Sudah sepatutnya kenaikkan harga BBM diiringi kebijakan pemerintah yang langsung dirasakan manfaatnya bagi rakyat. Misalnya pemerintah memperbaharui upah minimum regional (UMR) bagi buruh di seluruh Indonesia. Tidak hanya pegawai negeri sipil (PNS) saja yang ditingkatkan gajinya. Sehingga apapun penghapusan subsidi BBM tidak akan berdampak secara global dalam kehidupan masyarakat, terutama kaum miskin.

Sebelum direalisasikan kenaikan harga BBM, mari kita simak petikan lagu karya Iwan Fals berjudul "Galang Rambu Anarki", Maafkan kedua orangtuamu, kalau tak mampu beli susu. BBM naik tinggi, susu tak terbeli. Orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi.

Sumber

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar