Pages

Banner 468 x 60px

Demam Mobil Nasional Setelah Esemka Ada lima mobil produk lokal yang sudah dibuat. Tinggal menunggu dukungan kongkret.

0 komentar


Tak hanya siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Solo yang sudah memamerkan karya mereka, mobil Kiat Esemka. PT Industri Kereta Api (INKA) juga unjuk gigi dengan mobil murahnya. Bedanya, mobil karya INKA khusus untuk petani.

Dengan fungsi untuk mengangkut hasil pertanian, mobil ini dibanderol cukup murah. "Harganya Rp55 juta, nanti belum diputuskan subsidinya," kata Menteri Perindustrian, MS Hidayat, di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Selasa, 10 Januari 2012.

Menurut Menperin, mobil itu hanya untuk petani di pedesaan dan diharapkan tidak masuk ke kota besar, seperti Jakarta. Pemerintah daerah yang sudah berminat di antaranya Sulawesi Selatan. Mereka telah menyatakan kesiapannya membeli mobil murah buatan INKA itu.

Namun, untuk mendapatkan mobil khusus petani itu, pemerintah masih menimbang perlu tidaknya diberikan subsidi. Hidayat masih akan membicarakannya dengan Menteri Keuangan Agus Martowardojo. "Belum diputuskan. Prinsipnya pemerintah akan membantu proses produksinya agar bisa berjalan efektif," ujar dia.

Mesin mobil khusus petani itu berkapasitas 700 cc. Untuk itu, pemerintah masih akan menguji kemampuan daya angkutnya. "Nanti kami lihat, karena sedang dilakukan survei dan riset," tuturnya.

Siap produksi massalMobil produksi INKA dan siswa SMK itu merupakan beberapa contoh karya anak bangsa yang kini semakin mendapat dukungan publik dan pemerintah. Dukungan pemerintah itu di antaranya bakal diwujudkan dengan kesiapan untuk diproduksi massal.

Menteri Perindustrian, MS Hidayat, mengatakan, mobil produksi siswa SMK di Solo, Kiat Esemka, itu pun telah memiliki Nomor Induk Kendaraan (NIK) yang diberikan pada 2010. NIK itu nantinya akan dibawa ke Kementerian Perhubungan agar mendapatkan sertifikat uji kelaikan jalan.

"Kiat Esemka selama setahun ini sudah melakukan penyempurnaan. Sebentar lagi, saya rasa izin bakal keluar," kata MS Hidayat.

Dalam pandangan Hidayat, jika hasil uji kelaikan mobil berkapasitas mesin 1.500 cc itu dinyatakan lulus tes, Kiat Esemka bisa mulai masuk tahap skala industri. Pada tahap ini, pemerintah menyarankan agar produsen mobil seharga Rp95 juta itu bekerja sama dengan pelaku di industri otomotif.

Selain NIK, Kemenperin juga telah membantu proses produksi mobil Kiat Esemka dari sisi teknopart maupun proses perakitannya. Namun, untuk mencarikan investor, Hidayat masih belum membicarakan dengan pihak Esemka. Sebab, selama ini pihaknya baru membantu pada tahap perakitan.

"Saya sarankan bisa bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)," tuturnya.

Namun, Menteri BUMN, Dahlan Iskan, menyatakan harga murah bukan jaminan dari kesuksesan suatu produk. Suatu produk dikatakan berhasil jika mendapat respons positif dari pasar.

"Belum tentu murah itu laku. Kalau misalnya murah tapi tidak aman atau murah tapi gampang rusak?" tanya Dahlan di kantor Menko Perekonomian.

Mantan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara itu pun mencontohkan bahwa sebelumnya ada produk motor dari China. Harga motor itu jauh lebih murah dibanding buatan Jepang. Meski lebih murah, ternyata motor China masih kalah tenar.

"Jadi, masyarakat ikut menentukan. Jika nanti ada mobil nasional, masyarakat juga harus beli. Jangan tidak beli dengan berbagai alasan," tuturnya.

Bakal dipamerkanLangkah pemerintah untuk menggalakkan produksi mobil nasional sepertinya tidak setengah hati. Kementerian Perindustrian pun bertekad untuk menggelar pameran mobil-mobil produksi lokal tahun ini.

Selain Kiat Esemka, yang banyak diperbincangkan masyarakat, lima mobil karya tangan kreatif anak bangsa juga akan dipamerkan. "Tekad kami di 2012, ada beberapa mobil yang akan diluncurkan," kata Hidayat.

Dia berjanji, jika produsen mobil lokal tersebut sudah siap memproduksi kendaraan murah, Kemenperin akan membantu menggelar pameran ke publik. Tapi, dengan syarat, mobil yang layak pamer adalah kendaraan yang sudah selesai menjalani uji kelaikan.

"Yang sudah selesai uji kelaikan ada lima atau enam produk. Ada Tawon, Kiat Esemka, dan lainnya," ungkapnya.

Tapi, apakah mobil karya anak bangsa itu akan bisa bertahan? Menurut Hidayat, kelangsungan produk mobil lokal itu tergantung kemampuannya bersaing di pasar. "Meskipun, untuk itu kami akan bantu," ujarnya.

Hidayat memastikan, demam produksi kendaraan bermotor buatan dalam negeri tidak akan memunculkan kekhawatiran dari produsen mobil yang sudah ada di Indonesia. Pemerintah menganggap semua pihak pasti menyadari bahwa
memperkenalkan mobil nasional itu wajar terjadi di setiap negara.

"Tapi, untuk dominan di pasar itu suatu hal lain, karena kompetisi juga ketat. Jadi, perjalanan mobil nasional bisa dimulai 2012, tapi bukan sesuatu yang mudah, kita harus perjuangkan," kata dia.

Bahkan, Menteri Keuangan, Agus Martowardojo, siap memberikan dukungan fiskal untuk mengembangkan mobil nasional. Memiliki mobil nasional telah menjadi cita-cita pemerintah sejak lama.

"Jadi, dari sisi fiskal kami akan cari dan pelajari bentuk-bentuk inisiatif seperti apa yang bisa kami dukung," kata Agus.

Agus menyambut baik inisiatif anak-anak sekolah menengah kejuruan yang membuat mobil rakitan sendiri bernama 'Kiat Esemka'. Pihaknya selanjutnya menunggu keputusan Kementerian Perindustrian terkait kelanjutan pengembangan mobil tersebut.

Di antara mobil-mobil buatan putra-putri Indonesia itu, sebenarnya masih ada produk lainnya yang lebih dulu hadir. Sebut saja Komodo, Tawon, Gea, Marlip, Maleo, Wakaba, Timor, dan Esemka Digdaya.

Sayangnya, mobil-mobil karya anak bangsa itu tidak mendapatkan perhatian lebih. Mereka bahkan tidak mendapat tempat khusus dalam ajang pameran otomotif terbesar di Tanah Air, Indonesia International Motor Show (IIMS) pada 2011. Mereka hanya menempati stand kecil di pojok ruang pamer. (eh)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar